Siswa SMA Negeri 5 Kota Madiun menciptakan energi listrik alternatif dari rangkaian seng, tembaga, dan air yang mengalami proses elektrokimia. TEMPO/Ishomuddin
TEMPO.CO, Madiun– Umumnya listrik diperoleh dari perubahan energi kinetik melalui generator. Energi kinetik untuk menggerakkan generator bisa diperoleh dari uap yang dihasilkan dari pembakaran sumber energi fosil seperti minyak, batubara, dan gas. Energi kinetik untuk menggerakkan generator juga bisa bersumber dari aliran air atau udara.
Namun sumber energi fosil yang digunakan untuk listrik menimbulkan polusi dan energinya terbatas atau tidak dapat diperbarui (unrenewable). Maka dari itu dibutuhkan sumber energi alternatif lain yang cadangannya lebih besar dan tidak berdampak polusi. Salah satunya adalah air. Air yang dimanfaatkan sebagai elektrolit atau penghantar bisa mengalirkan arus listrik dari ion yang terdapat pada logam seperti seng (Zu) dan tembaga (Cu).
Di Jawa Timur, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 5 Kota Madiun berhasil menciptakan sumber energi listrik dari proses elektrokimia antara air, seng, dan tembaga. Rangkaian atau perangkat energi listrik itu disebut dengan baterai air.
Salah satu siswa SMA Negeri 5 Kota Madiun, Emlirisda, mengatakan karya yang diciptakan bersama teman-temannya itu bermula dari ide untuk mendapatkan sumber energi listrik alternatif selain dari energi fosil. Selain itu, diharapkan karya mereka juga tepat guna dan ramah lingkungan. Lalu muncul ide memanfaatkan air sebagai penghantar ion yang mengandung listrik dari logam jenis seng dan tembaga. “Rangkaiannya terdiri dari seng, tembaga, kabel, penjepit, pipa penyaring, lem, dan bola lampu,” ujar siswa kelas XII IPA 1 ini pada Tempo, Sabtu, 28 Juli 2012.
Seng dan tembaga merupakan dua jenis logam dengan beda potensial atau tegangan yang tinggi dibanding logam lain. Cara kerja baterai air ini dimulai dari lempengan atau sel seng dan tembaga yang direndam dalam sebuah tempat berisi air. Lempengan seng dan logam ditata sejajar atau berhadapan dan tidak boleh bersentuhan atau berhimpitan.
Dalam proses ini, seng berfungsi sebagai elektroda negatif dan tembaga adalah elektroda positif. “Larutan ion negatif pada seng akan berpindah atau tertarik ke tembaga yang berkutub positif melalui perantara air sebagai elektrolit (penghantar),” ucap Emlirisda.
Sehingga muncul larutan ion yang mengandung energi listrik. Energi listrik yang timbul itu dialirkan melalui kabel berarus positif dan negatif yang dipasang pada tiap lempengan seng dan tembaga. Dari situ, energi listrik dalam kabel dialirkan ke bola lampu hingga memancarkan cahaya.
Sementara itu, lem digunakan untuk merekatkan rangkaian kabel dan pipa penyaring yang berfungsi sebagai sirkulasi air jika air dibuat mengalir. Sedangkan klip penjepit kabel digunakan untuk menyambungkan aliran listrik dari rangkaian kabel pada lempengan ke rangkaian kabel yang menuju lampu.